Hati-hati dengan Subscribe To Comments

Posted on 2/12/2012 12:42:00 AM In: , , , ,
Kemarin blog saya yang lain mendapat dua buah komentar yang menunggu konfirmasi dari saya. Saya memang membuat aturan bahwa komentar yang masuk hanya akan muncul jika telah mendapat konfirmasi dari saya. Saya melakukan ini karena saya tidak mau komentar spam terbaca oleh pengunjung.

Setelah saya mengonfirmasi komentar pertama, kemudian saya membuka halaman yang dikomentari tersebut untuk menentukan jawaban apa yang harus saya buat. Saya tidak langsung membacanya, tetapi kembali ke dashboard untuk mengonfirmasi komentar yang kedua. Setelah itu, saya membuka halaman yang mendapat komentar kedua tersebut. Tetapi alangkah terkejutnya saya karena saya mendapatkan 403.
Forbidden You don't have permission to access / on this server. Additionally, a 403 Forbidden error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.
Pertama saya pikir hanya karena masalah koneksi internet saya. Tapi setelah saya mencoba merefresh beberapa kali dan tetap mendapatkan pesan yang sama, saya merasa memang ada yang salah. Saya kembali ke dashboard dan merefresh halam dashboard tersebut. Dan ternyata saya mendapatkan jawaban yang sama.

Akhirnya saya masuk ke cpanel. Dan betapa terkejutnya saya karena account saya telah suspended dengan alasan mengirimkan mass mail.

Perlu diketahui bahwa saya menggunakan Wordpress dan memasang plugin Subscribe To Comments sehingga pengunjung bisa mendapatkan notifikasi jika ada sebuah komentar baru ditambahkan pada halaman yang dia inginkan.

Plugin Subscribe To Comments
Sebenarnya menggunakan plugin seperti ini bukanlah masalah jika saya menggunakan hosting berbayar. Masalahnya saya baru saja memindah hosting saya dari yang berbayar ke free hosting. Saya berpikir, "kalau ada yang gratis, ngapain harus bayar".

Jadi, jika Anda juga menggunakan layanan free hosting, maka sebaiknya Anda tidak memasang plugin semacam ini, karena mungkin akan menyebabkan account Anda suspended.
Read more >>

Siapapun, pasti lebih menyukai kemudahan. Demikian juga dengan pemrogram mikrokontroler.

Banyak yang berpendapat bahwa bahasa pemrograman tingkat tinggi lebih mudah dibandingkan dengan Bahasa Assembly. Oleh karena itu, sering disarankan bagi pemula mikrokontroler untuk menggunakan bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti C atau Pascal.

Tapi, benarkah bahwa bahasa pemrograman seperti C atau Pascal lebih mudah ketimbang Bahasa Assembly? Bagi kebanyakan orang iya, karena mereka telah terjebak pada saran pertama, "Belajar pakai Bahasa C biar lebih mudah". Dengan mereka belajar menggunakan Bahasa C, secara otomatis dia akan membiasakan dirinya untuk menggunakan Bahasa C. Dan karena telah terbiasa menggunakan Bahasa C, maka dia akan menganggap bahwa Bahasa C adalah bahasa pemrograman yang paling mudah. Sedangkan Bahasa Assembly (yang tidak pernah dipelajarinya) adalah bahasa pemrograman yang paling sulit.



Bagi yang tidak mengikuti saran pertama, misalnya karena buku yang dia baca pertama kali tidak menyarankan penggunaan Bahasa C, tetapi tetap mengajarkan Bahasa Assembly, maka kejadiannya justru akan terbalik. Dia akan terbiasa dengan Bahasa Assembly, dan tidak pernah menggunakan Bahasa C. Oleh karena itu, dia justru akan menganggap bahwa Bahasa C itu membingungkan. Sedangkan Bahasa Assembly lebih mudah dipahami.

Kemudian ada pula yang akan berkata, "Dengan Bahasa C, kita bisa dengan mudah melakukan perhitungan matematika yang rumit seperti menghitung Sin, Cos, Log, dan lain-lain". Hal ini mungkin benar, tetapi akan segera terjawab bahwa menggunakan Bahasa Assembly-pun juga mudah dalam melakukan perhitungan seperti itu. Dengan catatan bahwa kita telah memiliki library dalam Bahasa Assembly untuk melakukan perhitungan itu. Jadi, masalah sebenarnya adalah masalah kelengkapan library. Dan jika Anda bukan sekedar follower, tentu Anda lah yang akan membuat library itu, baik Anda menggunakan Bahasa C maupun Bahasa Assembly.

Terlepas dari faktor mana yang lebih mudah, ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa tidak ada bahasa pemrograman yang mampu mengalahkan Bahasa Assembly dalam hal efisiensi program maupun kecepatan eksekusi program.

Tetapi... ini hanyalah pendapat saya. Dan saya menghargai jika Anda memiliki pendapat yang berbeda.
Read more >>

RSUD Tidak Selalu Lebih Murah dari Swasta

Posted on 12/17/2011 10:01:00 PM In: , ,
Sebagai penderita diabetes tipe 1, insulin merupakan kebutuhan pokok bagi saya. Selama ini saya selalu mendapatkan insulin dari RSUD Banyumas. Akan tetapi, entah karena masalah apa, terkadang apotik di RSUD Banyumas kehabisan stok insulin. Konsekuensinya, saya harus mencari insulin ke tempat lain.



Dulu, saat pertama saya mengalami kejadian seperti ini, saya mencari keliling Purwokerto dan tidak bisa mendapatkan insulin tersebut. Dan terpaksa saya pergi ke Jogja hanya untuk mendapatkan insulin (dengan harga yang lumayan lebih mahal, hampir 2x lipat).

Belakangan saya mengetahui ada sebuah apotik di Purwokerto yang menyediakan insulin. Nama apotiknya adalah "Apotik Karya Sehat" yang berada di depan RSUD Margono. Harganya lebih mahal ketimbang di RSUD Banyumas, tetapi tidak semahal di Jogja.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mengalami apotik RSUD Banyumas kehabisan stok insulin. Dokter menyarankan saya untuk mencoba mendapatkan di RSUD Margono. Akan tetapi saya merasa agak malas untuk pergi ke RSUD Margono. Jadi saya pergi ke dekatnya saja, yaitu ke Apotik Karya Sehat. Sayang sekali bahwa pada saat itu, apotik tersebut juga sedang tidak memiliki insulin tipe yang saya butuhkan, yaitu Humalog Mix 25. Dan lagi-lagi, saya disarankan oleh petugas apotik untuk ke RSUD Margono.

Dan akhirnya saya masuk juga ke Margono. What! saya bisa mendapatkan 1 pak Humalog Mix 25 dengan harga sekitar 700 ribu di RSUD Banyumas, tetapi di Margono harganya 900 ribu lebih. Kurang deh duit yang saya bawa :D akhirnya saya cuma membeli 2 saja (1 pak isinya 5). Saya juga berharap 2 minggu lagi Humalog Mix 25 telah tersedia lagi di RSUD Banyumas, jadi lebih murah.

Sekitar 2 minggu kemudian, saya harus kecewa karena ternyata insulin tersebut masih belum ada di RSUD Banyumas. Wah, harus mendapatkan insulin dengan biaya mahal nih. Dan akhirnya saya langsung pergi ke Margono karena saya yakin di Karya Sehat juga masih tidak ada.

Sayang sekali saya lupa membeli jarum suntiknya sekalian, jadi saya kehabisan stok jarum di rumah. Dan saya kembali lagi ke Purwokerto untuk membeli jarum tersebut. Saya menuju Apotik Karya Sehat. Di sana, saya tidak sekedar beli jarum, tetapi iseng menanyakan insulin Humalog Mix 25. Eh, ternyata sekarang telah ada. Tapi yang benar-benar membuat saya heran adalah, Apotik Karya Sehat yang merupakan apotik milik swasta, ternyata menjual insulin tersebut dengan harga yang lebih murah ketimbang RSUD Margono.

Urut-urutan harga Humalog Mix 25 dari yang paling murah ke yang paling mahal adalah sebagai berikut (per 1 vial):

  1. RSUD Banyumas: sekitar 140 ribu.
  2. Apotik Karya Sehat: sekitar 160 ribu.
  3. RSUD Margono: sekitar 180 ribu.
Begitulah kejadian menyebalkan di Margono yang saya alami. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit milik pemerintah mengeruk keuntungan sebanyak itu dari orang sakit. Sedangkan apotik milik swasta saja tidak sampai mengambil keuntungan sebanyak itu.

Tidak heran jika RSUD Banyumas lebih disukai oleh pasien ketimbang RSUD Margono. Bukan saja pelayanannya yang lebih bagus, tetapi harganya yang juga jauh lebih murah.
Read more >>

Translator